Hari Ayah

Hari Ayah

Kira-kira tanggal 14 November lalu, saya membaca postingan seorang teman yang mengikuti sebuah lomba yang yang diadakan oleh Hardivizon dimana isinya mengenai peringatan Hari Ayah.  Sekilas tantangannya terlihat sepele, cukup menulis mengenai apa pendapat kita tentang Ayah kita sebanyak minimal 100 kata, lalu disertai oleh foto(boleh jadul) bersama Ayah.

Wah… Saya semangat banget ingin ikut, walaupun saya ngga kenal dengan Mas Hardivizon ini. Kemudian, saya berusaha mengingat-ngingat momen penting foto berdua bersama Papa.

Glek! Kok Saya ngga ingat blas ya?!  Saya berusaha keras mengingat. Tapi kok rasanya ngga ada ya satu momen penting atau momen saat sedang bepergian sekeluarga, kemudian ada sedetik waktu untuk saya berfoto berduaan saja dengan Papa saya? Parah. Saya setengah panik.

Sorenya saya mampir ke rumah orangtua. Tujuannya satu, membongkar lemari buku dan buffet tempat penyimpanan foto-foto kami sekeluarga. Dua jam berlalu. Hasilnya? Saya masih tidak menemukan foto bersama Papa saya. Kalaupun ada, pasti dalam satu frame itu, ada adik atau Mama. Ngga ada satupun yang isinya hanya berdua dengan Papa.

Well, selintas, saya jadi merenung. Sedemikian sibuknya kah kami berdua sehingga ngga pernah sempat foto bareng? My Dad used to be one of the busiest person in the house. Kami bersaudara besar dan mandiri karena didikan Mama. Dalam urusan keluarga, Papa bertugas mencari nafkah dan memberikan punishment bila salah satu diantara kami melakukan kesalahan. That’s it. Papa sangat kaku.

Time goes by… Lomba penulisan tentang Hari Ayah sudah lewat deadline. Tadi siang, sepulang dari sebuah acara seminar di Bukittinggi,  gara-gara kamar tidur yang terkena rembesan air hujan, saya beres-beres kemudian ke gudang mengambil setumpukan koran bekas. Tiba-tiba mata saya tertuju pada sebuah amplop tebal fuji film. Iseng-iseng saya buka dan lihat satu per satu isinya. Ternyata itu adalah foto-foto dokumentasi tahun 2006, sehari sebelum Mirza, anak pertama kami lahir. Nyaris menjerit kegirangan, saya menemukan satu foto dibawah ini.

YAAAAA Alhamdulillahhh!  Ini adalah satu-satunya foto saya bersama Papa saya sehari sebelum saya menjalani operasi caesar melahirkan Mirza,  (please ignore wajah saya yang tanpa make-up blas, hihihihii).  Malam itu Papa baru pulang dari luar kota dan kemudian mampir menjengukku. Memastikan semuanya sudah aman terkendali, mendampingi suamiku, berdiskusi dengan dokter, dan sebagainya…

Hari Ayah ( Saya dan Papa)

Satu hal lagi yang harus saya curahkan disini. Mengapa saya nyaris patah arang menemukan foto diatas? Soalnya saya sedikit jealous dengan Mirza dan Fatimah (anak-anak saya). Foto mereka berdua bersama Datuknya melimpah ruah. ( Papa saya dipanggil Datuk oleh cucu-cucunya) ; Papa saya menyimpan berbagai macam video, foto, bahkan rekaman suara mereka. Sesuatu yang bahkan tidak pernah saya miliki hingga sekarang. Di matanya, terbaca kebanggaan besar bagi cucunya… I see my life through your eyes as your life will be seen through mine (Superman).

Quote from : “You will travel far, my little Kal-El. But we will never leave you… even in the face of our death. The richness of our lives shall be yours. All that I have, all that I’ve learned, everything I feel… all this, and more, I bequeath you, my son. You will carry me inside you, all the days of your life. You will make my strength your own, and see my life through your eyes, as your life will be seen through mine. The son becomes the father, and the father the son. This is all I… all I can send you, Kal-El.”

 Selamat HARI AYAH, Papa tersayang, Datuk Mukhlis tercinta….

Hari Ayah

 

4 thoughts on “Hari Ayah

  1. Alhamdulillah… akhirnya ketemu juga ya foto berdua ayahanda tercinta.. Habis ini, sering-sering aja foto berdua dengan beliau lagi, hehe… 

    Salam kenal dari sesama orang Bukittinggi dan punya nama ayah yg sama.. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.