Strategi Berjualan Sayur Dengan Hape dan Afiliate Virtual Storage

Strategi Berjualan Sayur Dengan Hape dan Afiliate Virtual Storage

Ini Pak Nok, nama lengkapnya terus terang saya ngga tau padahal Dia adalah tukang sayur yang telah berjualan lebih dari 10(sepuluh) tahun di seputaran kompleks ini… #facepalm

Sejak jam 03.00 dini hari, Pak Nok dan istrinya sudah berada di pos ronda komplek perumahan kami. Mereka  mulai mengatur jualan mereka yang terdiri dari sayur-mayur, bumbu masak, daging, ikan, ayam, buah-buahan hingga berbagai jenis keperluan dapur  ke dalam 2(dua) gerobak mereka yang nantinya akan dibawa terpisah oleh masing-masing.

Gerobak Sayur Pak Nok
Gerobak Sayur Pak Nok

Selesai mengatur sayur-mayur reguler yang dijual hari ini, mereka juga sibuk mengemasi berbagai pesanan ibu-ibu dan mbak-mbak langganan mereka dalam plastik belanjaan dan kemudian disusun sesuai urutan rute jualan. Yang terakhir adalah pengemasan “PAK HESA” atau Paket Hemat Santap yang jenisnya sampai 10 macam.

Saya tertawa mendengar istilah itu, tapi kemudian termenung. Pak Nok bilang dia dan istrinya membuat PAK HESA tersebut karena sekarang mulai susah berjualan ketengan (item per item). “Akhir-akhir ini para ibu pada banyak yang ngeluh, belanja Rp20,000-rp50,000 ngga cukup buat konsumsi sehari. Kami juga bingung kalau jual ketengan, ditawar murah banget sampai modalnya aja ngga balik.”

Dengan sistem PAK HESA ini, tersedia paket sayur asem + ikan asin /  tempe seharga mulai dari Rp20,000; ada paket tumis kangkung dan irisan tipis daging rp40,000 trus paket sayur lodeh dan  tempe tahu mulai dari Rp25,000 yang bisa dikonsumsi untuk sebuah keluarga kecil untuk lauk siang dan malam (2 kali makan). Semua lengkap dengan bumbu basahnya dan penyedap instan (bila suka).

Di gerobaknya yang besar, saya melihat banyak sayur-mayur yang sudah terbungkus rapi. Nah, itu dia pesanan para ibu-ibu yang dilakukan sehari sebelumnya.  Banyak yaa…

Menurut Pak Nok, terkadang  ia memberikan bonus bagi para pesanan tersebut berupa extra cabai / bawang / bumbu dapur lainnya tergantung pada apa yang sedang murah / melimpah di pemasoknya di pasar induk. Ini dia lakukan sebagai promosi untuk meng-encourage pembelinya melakukan pemesanan sehari sebelumnya berapapun nilai pesanannya tanpa minimum order.

Saya kemudian protes, “ hahahha… wahhh kok gitu… Pak Nok… Jadi yang beli langsung ngga dapat bonus nie?”

“Bukan gitu mbaa.., “ kata Pak Nok;  “Kalau mba mesan sehari sebelumnya, siang ini saya gampang bikin rekap belanjaan di rumah, trus tinggal saya hape (*telpon) tiap pemasok saya di pasar induk, naahh… mereka pada nyimpenin  atau nelpon lagi ke Jawa sono (maksudnya: diluar jakarta) untuk mesan item-item kita. Saya juga enak, ketauan deh besok pagi saya mesti bawa duit berapa dan ngga bakal kehabisan barang. Soalnya kami sekarang ngebatasin jumlah item belanjaan mba… takut ngga laku. Harga-harga tiap hari berubah gila-gilaan. Kayak kemarin ni, harga cabe keriting saya jualnya minimum rp5,000. Hari ini kalau mau beli min. Rp7,500 mba… Mumet khan?  Kalau kitanya ngga pinter-pinter ngunci belanjaan buat besok, bisa-bisa gerobak sayur saya kosong keesokan harinya.”

Pak Nok menggunakan hape untuk mengkontak salah satu pemasoknya di pasar induk untuk mengecek ketersediaan sayur / bumbu pesanan langganannya.
Pak Nok menggunakan hape untuk mengkontak salah satu pemasoknya di pasar induk untuk mengecek ketersediaan sayur atau bumbu pesanan langganannya.

Benar saja. Tiba-tiba hape Pak Nok berdering.  Nguping percakapannya, sepertinya ada pesanan buat besok berupa daging 1kg buat semur, plus bahan sayur capcay untuk besok. Pak Nok menyebutkan total harga belanjaan, untuk dibayarkan keesokan harinya.

Kemudian ada deringan lagi. Kali ini pesanan pisang raja dan pisang tanduk. Pak Nok tidak langsung mengiyakan pesanan tersebut.  Dia menelpon pemasok pisang di pasar induk untuk mengecek ketersediaan barang tersebut. Setelah lengkap informasinya, ia menelpon si pemesan untuk konfirmasi harga dan pembelian. Canggih yak? #nyengir ^_^

“Kadang kita harus ngecek beberapa pemasok, mba, untuk dapat bes prais. Khan saya afiliasi sama banyak pemasok yang punya los gede di pasar. *Ceileee… Pak Nok punya virtual storage segala di hapenya.

Selama belanja sayur di depan rumah, kurang-lebih ada 5 kali Pak Nok menerima telpon.  Pemesanan dapat terus dilakukan hingga jam 12 malam via telpon atau sms.

“Intinya hari gini harus pintar-pintar nyiasatin cara jualan mba… harus ngertiin pembeli, sekalian manfaatin teknologi (hape).  Jaman susah gini, apa-apa mahal dan ngga nentu naik-turunnya (*maksudnya harga barang) kita-kita usahain PAK HESA seperti gini dahh…”

Kemudian ada seorang ibu yang ikut nimbrung obrolan kami. “Yaaa… sekarang  kita doain aja agar cuaca tetap bagus, ngga ada hama, jalanan ngga macet, petani sehat, para pengemudi sayur-mayur hepi, Pak Nok juga sehat,  dan harga-harga ngga naik terus-terusan. Pemerintah mah ngga ngaruh, sibuk berantem ngga jelas,” timpal ibu tersebut. Tajam.

Belanjaan Sayur Saya Hari Ini
Belanjaan Sayur Saya Hari Ini

Saya terdiam. Setelah mengemasi , saya melirik kantung belanjaan saya yang tipis ini. Bener juga. Karena saya belanja on the spot tanpa perencanaan pesanan sehari sebelumnya,  Item belanjaan yang terdiri dari 2 ikat daun pakis, 1 butir kelapa,  6 biji keluwak (untuk bahan rawon), 5 batang serai dan daun jeruk dihitung Rp35,000.

Bujug! Mahal aja.

Strategi Berjualan Sayur Dengan Hape dan Afiliate Virtual Storage

14 thoughts on “Strategi Berjualan Sayur Dengan Hape dan Afiliate Virtual Storage

  1. Wah ternyata dunia persayuran di komplek itu ribet jugan ya. Harga sayuran naik turun tiap hari. Penjual sayur harus cepet dapet informasi itu, apalagi kalau pesan duluan jadi apa yang dipesan pasti terjual.

    Kalau di dekat rumahku, penjual sayur yang keliling gitu sudah mulai berkurang. Dulu ada dua tiga orang selalu lewat depan rumah tapi sekarang satu pun jarang ketemu. Yang bertahan malah yang punya warung gitu. Satunya warung sayur pagi doang, jam 9 pagi sudah habis. Satunya lagi, warung sayur sepanjang hari. Sore-sore dia masih ada stok meski sudah terlihat layu sih.

  2. Belanja mbak rika Rp.35.000 baru dapat segitu ya, untung saya tinggal di Lubuk Pakam, 35rb masih bisa belanja ikan, tahu tempe, cabe, bawang merah & putih, lada, pokoknya lebih banyak dibanding mbak deh
    hahahahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *