ANAK, FILM DAN BUDAYA SENSOR MANDIRI

ANAK, FILM DAN BUDAYA SENSOR MANDIRI

ANAK, FILM DAN BUDAYA SENSOR MANDIRI

Lembaga Sensor Film 100 tahun (1916-2016)

Hari Sabtu merupakan hari yang paling ditunggu oleh Mirza, anak sulungku yang sudah duduk di bangku kelas 4 SD. Terlihat sekali kalau dia bangun dengan sangat ceria di pagi hari dan langsung meminta kami untuk membuka hotspot internet untuknya dannnn… buka youtube. Bila tidak ditegur, Mirza bisa asyik duduk sambil sesekali mengomentari berbagai tampilan konten. Yang dia lihat bisa bermacam-macam, mulai lagu-lagu tradisional Indonesia (dia suka lagu Yamko Rambe Yamko dari Papua) hingga memperlihatkan suatu video kepada adiknya Fatimah, efek bila orang tidak mau membersihkan telinga… bleh.

Beda banget saat Saya seumuran Mirza, tahun 1986… Hari Sabtu memang merupakan hari yang paling ditunggu untuk pergi bersama Ortu untuk rental video Betamax atau VHS, tiap anak boleh meminjam 2-3 video. Biasanya kami langsung meminjam film Gaban atau Google Five. Itupun jam nontonnya paling telat jam 20.30 malam, soalnya jam 21.00 adalah jam wajib bagi orangtua kita untuk nonton Dunia Dalam Berita di stasiun TV satu-satunya TVRI.

Jarak 30(tiga puluh) tahun sudah ternyata sudah cukup memberi “warna” dalam evolusi media eletronik serta perubahan pola tonton pada anak.  Generasi yang lahir tahun 2000-an yang sering disebut Generasi Milenial, merupakan Generasi yang lahir dengan teknologi yang sudah mudah dimiliki siapa saja. Berbagai macam gadget sudah bukan hal yang sulit dicari, demikian juga variasi konten dari film atau acara di media TV. Berbagai media konten yang beredar di TV sudah mulai merambah dunia digital.  Jaman saya dulu masih SD, stasiun TV hanya ada TVRI dan RCTI (menggunakan parabola), versus tahun 2016 dimana selain TVRI, Indonesia sudah memiliki banyak TV swasta ditambah TV channel yang berlangganan. Intinya adalah saat ini tiap orang dapat dengan mudah memilih berbagai jenis konten untuk dilihat, kapan saja dan dimana saja.  Saya sebagai orangtua, menghadapi tantangan yang cukup berat untuk mensensor konsumsi media buat anak saya, sehingga saya dan suami yang pada hari senin hingga jumat bekerja di kantor, benar-benar menerapkan hari sabtu dan minggu sebagai waktu untuk memberikan yang terbaik untuk anak berupakan quality time yang efektif. Kami mendamping anak-anak kami untuk membuka, mencari dan menikmati konten sesuai dengan usia mereka.

ANAK, FILM DAN BUDAYA SENSOR MANDIRI

weekend-seru-family-time

Saat mengikuti kegiatan Roadblog10cities  bulan Maret hingga Mei 2016 lalu di kota Banda Aceh, Bojonegoro, Surabaya dan Makassar, saya mendapatkan banyak diskusi dan prespektif dari beragam teman-teman blogger. Roadblog10cities sendiri merupakan Roadshow Blogger yang dilakukan selama seharian di 10 kota Indonesia. Lembaga Sensor Film merupakan salah satu lembaga pemerintah Republik Indonesia yang turut melakukan sosialisasi mengenai gerakan SENSOR MANDIRI.

Pentingnya Lembaga Sensor Film (LSF) berinteraksi dengan netizen Indonesia khususnya Blogger dan Youtubers sebagai salah satu penghasil konten bergambar /film adalah merupakan salah satu tindak lanjut nyata atas paparan Bapak Dr. Ahmad Yani Basuki, Ketua LSF 2015-2019 dalam press release Siaran Pers Lembaga Sensor Film RI Berkenaan dengan Netflix (11 Januari 2016) :http://www.lsf.go.id/berita/226 dan Undang-Undang nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman.

Berkaitan dengan paradigma barunya, LSF diharapkan menjadi Garda Budaya Bangsa dalam peran melindungi masyarakat dari pengaruh negatif film, Mercusuar dalam dunia perfilman, yaitu berperan serta sebagai penerang dan pendorong untuk berkembang dan produktivitas film nasional yang lebih baik dan berdaya saing.

Self Sensor yaitu LSF menjadi pendamping dan pendorong masyarakat dalam membangun budaya sensor mandiri, dan Menjadi Mitra yang Baik bagi Masyarakat Perfilman dalam hal ini dengan mengedepankan prinsip dialog dengan pemilik film dan iklan film.

Blogger Indonesia sebagai salah satu “creator content” di dunia digital merupakan insan yang dapat bekerja-sama dengan LSF untuk membangun BUDAYA SENSOR MANDIRI DALAM RANGKA MENYAMBUT 100 TAHUN LSF.

EXCITE INDONESIA  selaku penyelenggara dan sebagai salah satu perusahaan pengelola database berbasis internet terbesar di Indonesia dengan jumlah anggota mencapai 1,5JUTA dan lebih dari 75,000 blogger berkeinginan untuk turut berperan aktif menyebarkan pesan positif kepada anggotanya melalui ROADSHOW BLOGGER 10 KOTA. Gayung pun bersambut.

Dari ke-empat kota Roadblog10cities, ada beberapa catatan seru yang ingin saya share disini. Yang pertama adalah BANDA ACEH. Yes, saya tahu bahwa kota ini merupakan Daerah Istimewa yang menerapkan hukum syariat Islam, dimana setiap pengunjung perempuan dan beragama Islam, wajib menggunakan hijab saat keluar rumah. Namun yang saya baru tahu adalah : Disana TIDAK ADA Bioskop. Yang banyak adalah warung kopi tempat orang berkumpul dan bertukar sapa. Saat kegiatan berlangsung disana Ibu Dyah Chitraria Liestyati dengan lugas berinteraksi dengan para peserta. Beliau dan saya (*termasuk) baru tahu bahwa walaupun di Banda Aceh tidak ada bioskop, mereka sering membooking sebuah warung kopi lengkap dengan projector. aceh_lsf_ibu-chitraria1

Sementara di Bojonegoro, Bapak M. Sudhama Dipawikarta, dengan background yang juga seorang blogger dan pemerhati seni, sangat mudah berbaur serta menyampaikan bahasan mengenai sosialisasi SENSOR MANDIRI didepan 120 teman-teman blogger. Berbagai sample kasus ringan diutarakan oleh Beliau sehingga para peserta yang rata-rata berusia dibawah 20 tahun manggut-manggut setuju dan akrab dengan beliau.  Ada pertanyaan mengenai tayangan di TV kabel yang semi porno yang tayang dibawah jam 10 malam, hal tersebut ditanyakan apakah hal itu masuk nggak masuk dalam lembaga sensor?  Pak Dipa dengan “sersan = serius tapi santai” menjawab : Kewajiban kita bila ada anak/pemirsa dibawah umur untuk langsung “switch channel” jangan dipelototin, nah inilah fungsi Sensor Mandiri.  …hahhaha… para peserta langsung pecah tawanya.

bojonegoro_lsf-bpdipa1

Di Surabaya, Bapak Ketua Lembaga Sensor Film, Bapak DR.H.A Yani Basuki, MSi berkesempatan untuk sharing didepan 102 peserta Roadblog10cities. Berhubung beliau lahir di Jawa Timur, dengan cepatnya Beliau minggle dengan para peserta. Ada salah satu pertanyaan dari peserta yang saya highlight, yakni :Saat ini anak-anak sekolah di daerah telah dilatih untuk membuat konten film pendek. Bagaimana cara mengurus perijinan LULUS SENSOR? Berapa waktu yang dibutuhkan? Berapa harga / biaya yang harus dipersiapkan? Beliau menjelaskan bahwa kedepannya LSF akan memiliki perwakilan berupa LEMBAGA SENSOR DAERAH. Nah, lembaga ini nantinya akan bekerja dan berinteraksi lebih intens dengan sineas-sineas muda lokal.

makassar_lsf-bp-mukhlis-paeni1

Di kota Makassar, Bapak Mukhlis PaEni, menyampaikan bahwa di Indonesia sebagai negara dengan multi etnis memiliki beragam persepsi mengenai cara berpakaian (sebagai salah satu contohnya) Menggunakan rok sebatas lutut dianggap sopan oleh masyarakat di Menado, namun di kota lain, seperti Banda Aceh, hal itu tidak diterima. Beliau juga menyarankan bagi para blogger film dan sineas muda lokal untuk mulai mengangkat konten lokal daerah masing-masing. Jangan meng copy-paste budaya barat. Yang membuat teman-teman peserta terbahak adalah saat Beliau menyebutkan beragam jenis HANTU LOKAL Makassar seperti ParrakanG… HEHHEHE

Well… Paparan dari ke-empat narasumber diatas benar-benar memberikan pencerahan buat saya. Melihat banyaknya feedback dan antusias teman-teman blogger saat acara, semoga kedepannya LSF bisa memberikan porsi yang lebih besar untuk sosialisasi dan fokus terhadap generasi muda penerus bangsa yang sudah digital savvy. Mari BUDAYAKAN SENSOR MANDIRI

ANAK, FILM DAN BUDAYA SENSOR MANDIRI

 

2 thoughts on “ANAK, FILM DAN BUDAYA SENSOR MANDIRI

  1. Maaf mau tanya Mas, saya sebagai orang yang awam untuk pengurusan sensor, apakah sudah ada info kelanjutan mengenai Lembaga Sensor Daerah, yang disampaikan di artikel ini? Kebetulan kantor saya tahun ini diminta Surat Tanda Lulus Sensor apabila ingin iklan di bioskop (pihak bioskop yang meminta). Cukup sulit mencari agency untuk STLS ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *