REVIEW BUKU: ARUS DERAS, OASE JIWA HINGGA KE RUSIA

REVIEW BUKU: ARUS DERAS, OASE JIWA HINGGA KE RUSIA

REVIEW BUKU: ARUS DERAS, OASE JIWA HINGGA KE RUSIA

Sesaat saya menerima buku ARUS DERAS dari tangan salah satu penulisnya, Ana Mustamin, yang terbayang pertama kali adalah “this book looks so mysterious and serious”… dengan sampul yang didominasi dengan warna hitam pekat, hanya dihiasi oleh kupu-kupu tunggal.

                                                                                                            Mubarika.com : ARUS DERAS

Wahh… pikiran Saya langsung teringat pada Filosofi Kupu-Kupu, yang konon merupakan salah satu simbol pencapaian kesempurnaan  dalam hidup, dimana fasenya dimulai menjadi telur-ulat-kepompong hingga menjadi Kupu-Kupu nan Indah. Manusia, konon, mempunyai 4(empat) fase hidup serupa dengan Kupu-kupu, dimana ada saja manusia yang terkadang gagal dalam mencari identitas diri. Ibarat kata, dari fase ulat yang “rakus” gagal bermetamorfosis menjadi kupu-kupu. Benar-benar sampul buku yang sarat makna yang dirancang indah oleh Bambang Prasadhi.

Di halaman pengantar, “Ungkapan Seteguk Kopi” terungkap bahwa keempat penulis merupakan alumni penulis fiksi majalah Anita (Cemerlang) Salah satu majalah remaja yang isinya 90 persen cerpen. Salah satu majalah yang hits di era tahun 80-90an dan ikut menyemarakkan masa remaja saya. Hehehee… Bahkan dulu sempat ikut beberapa kali lomba menggambar ilustrasi cover majalah tersebut dan sukses gagalnya….

Ki-ka : Kurnia Effendi, Ana Mustamin, Agnes Majestika dan Kurniawan Junaedhie

Membuka lembaran pertama ARUS DERAS, tulisan Agnes A. Majestika seolah-olah membawa saya terbang kembali ke Kyoto, Jepang Januari 2017 silam saat angin musim dingin menerpa. Tulisannya yang banyak meng”adu” kekuatan hati banyak memberikan kejutan dimulai dari “Di Tepi Harukoma“, saat Suharjo menghadapi ketegaran Tokimitsu-san, dirangkaikan tulisan “Geisha” yang berlatar belakang Takashimaya Dept.store dan kedai minuman sake kemudian looping ke “Tanah” di daerah Gekbong Ciamis dengan kisah masa kecil di perkebunan cengkeh ditutup oleh “Uyghur” cerita penemuan cinta di kesempatan kedua di Xinjiang, China.

Ke-empat cerita pendek milik Ana Mustamin sarat dengan ketegaran dan kekuatan “perlawanan balik” Dimulai dari “Warung Kopi Uya” yang didedikasikan seolah mendokumentasikan perjuangan sang Adik, Uya Mustamin dalam membangun bisnis warung kopinya, “Akuisisi” tulisannya kedua, merupakan tulisan yang paling saya sukai. Pergulatan batin Generasi Baby Boomers dan Gen X yang galau menghadapi cepatnya perubahan teknologi yang diusung oleh Generasi Y di tempat bekerja. “Lukisan Braga” merupakan kisah cinta penuh pergulatan dengan latar Galeri Soemardja di Bandung. Cerita ke-empat  “Dermaga di Bandara” ditutup dengan kisah cinta masa kecil yang selesai dengan harapan indah para pembacanya di Changi, Singapore.

Setelah membaca kedua penulis diatas yang ritme-nya cenderung menanjak dan mengaduk perasaan, tulisan Kurnia Effendi yang dimulai dengan “Opor Ayam” terasa ringan diserap. Pada “Sepasang Pengarang” kata-kata hardikan seperti Anjing! Dan Bangsat! Terserak di beberapa paragrafnya namun kedalaman cerita Kurnia Effendi membuat cerita ini tidak bermakna garing. “Ibu Bagi Rara” merupakan pergumulan batin seorang remaja Rara yang terusik oleh pertanyaan Gaharu. Alurnya begitu lugas dan mudah dipahami. “Arus Deras” cerpen yang menjadi title buku ini membawa pembacanya ke dalam diskusi “after making-love” antara Ratna dan kekasihnya yang nasionalis, Pi’i dengan latar belakang Indonesia jaman kemerdekaan. Bernas, hangat dan bergairah.

Last but not Least, Kurniawan Junaedhie. Berbeda dari tiga penulis sebelumnya, Beliau ini mempunyai daftar panjang menjadi RedPel atau PemRed di media-media Raksasa yang hebat dan terkenal tajam. Sebutlah Kompas dan Femina #SalimkepadaSeniorSatuAlmamater yang sudah pasti jaraknya jauh buanggettt… Dimulai dengan “Dipisahkan Dua Benua” merupakan cerpen yang menurut saya sangat dekat dengan keseharian Kurniawan Junaedhie sebagai jurnalis. Kebiasaan menyingkat nama seperti Hamid Hamaluddin menjadi HH adalah satu hal yang masih saya bawa di kantor hingga sekarang. “Perempuan beraroma Melati” sukses membuat saya bergidik. Dimana hal-hal gaib juga saya percaya ada dan eksis paralel dengan dunia manusia. No doubt about that! “Sang Pengelana” juga merupakan ulasan terkait keberadaan dunia berikutnya yang dibungkus dengan kemerdekaan jiwa setelah perceraian. Terakhir, Kegalauan pasangan Dink : Helga dan Andre yang hidup di dunia modern, sukses, tanpa anak, akhirnya monoton dan gagal memaknai cinta yang mereka temui di Hard Rock Cafe, Bali dalam “Kita tidak berjodoh, sayang” seperti membaca curhatan banyak teman-teman saya akhir-akhir ini.

                                   ARUS DERAS @ BOLSHOI THEATRE, MOSCOW

Membaca buku ARUS DERAS ini serasa oase buat saya dalam mencari cerpen yang bermutu. Bagi saya, sebuah buku selalu memiliki aroma yang khas bagi pembacanya. Saya menikmati sensasi membuka tiap lembarannya dalam setiap perjalanan pulang dari meeting. Gara-gara ini, seorang staf saya sampai kepo alias ingin tahu kenapa saya mau repot membawa buku ini dalam tas saya.

Kepadanya saya berujar, “Buku itu teman perjalanan. Bila kau solo traveller, maka di tengah kehampaanmu dalam mencari identitas, Buku dapat memberi warna. Pada tiap lembar halamannya yang mungkin mulai terlipat akan tersimpan berbagai kenanganmu di sana

Dan ARUS DERAS menemaninya ke Rusia…

REVIEW BUKU: ARUS DERAS, OASE JIWA HINGGA KE RUSIA

3 thoughts on “REVIEW BUKU: ARUS DERAS, OASE JIWA HINGGA KE RUSIA

  1. Kalau baca sekilas review-nya, buku INI sekilas memuat cerpen yang “berbobot” terlepas dari ciri majalah Anita jaman dulu. Terima kasih, akan menjadi referensi “teman perjalananan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *