BUDAYA SENSOR MANDIRI DI INDONESIA

Kemajuan teknologi saat ini telah memacu munculnya berbagai media baru yang memungkinkan ada interaksi dan penerimaan “nyaris” seketika pesan dan konten dari creator (pembuat konten) kepada pemirsanya.

Media baru tersebut diklasifikasikan sebagai Media Sosial  Media sosial di Indonesia baik di kalangan muda dan dewasa, mengalami kemajuan yang sangat pesat bagi penggunanya. Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual.

BUDAYA SENSOR MANDIRI

Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia. Media sosial merupakan bagian dari media komunikasi yang digunakan masyarakat pada zaman modern ini.

Kaplan dan Haenlein menciptakan skema klasifikasi untuk berbagai jenis media sosial dalam artikel Horizons Bisnis mereka diterbitkan dalam 2010. Menurut Kaplan dan Haenlein ada enam jenis media sosial[1]:

  • Proyek kolaborasi Situs web mengizinkan usernya untuk dapat mengubah, menambah, ataupun menghapus konten-konten yang ada di situs web ini. Contohnya wikipedia.
  • Blog dan microblog User lebih bebas dalam mengekspresikan sesuatu di blog ini seperti curhat ataupun mengkritik kebijakan pemerintah. Contohnya Twitter.
  • Konten Para user dari pengguna situs web ini saling meng-share konten-konten media, baik seperti video, ebook, gambar, dan lain-lain. Contohnya YouTube
  • Situs jejaring sosial Aplikasi yang mengizinkan user untuk dapat terhubung dengan cara membuat informasi pribadi sehingga dapat terhubung dengan orang lain. Informasi pribadi itu bisa seperti foto-foto. contoh facebook
  • Virtual game world Dunia virtual, di mana mengreplikasikan lingkungan 3D, di mana user bisa muncul dalam bentuk avatar-avatar yang diinginkan serta berinteraksi dengan orang lain selayaknya di dunia nyata. Contohnya gim daring.
  • Virtual social world Dunia virtual yang di mana penggunanya merasa hidup di dunia virtual, sama seperti virtual game world, berinteraksi dengan yang lain. Namun, Virtual Social World lebih bebas, dan lebih ke arah kehidupan, contohnya second life.

Ciri-Ciri MEDIA SOSIAL

  • Pesan yang di sampaikan tidak hanya untuk satu orang saja namun bisa keberbagai banyak orang contohnya pesan melalui SMS ataupun internet
  • Pesan yang di sampaikan bebas, tanpa harus melalui suatu Gatekeeper
  • Pesan yang di sampaikan cenderung lebih cepat di banding media lainnya
  • Penerima pesan yang menentukan waktu interaksi

Media sosial di Indonesia memiliki 120 JUTA pengguna yang aktif dalam bermedia sosial, Masyarakat Indonesia saat ini umumnya senang berbagi informasi. Dibarengi dengan perkembangan teknologi digital yang penetrasinya hingga berbagai kalangan, peredaran informasi menjadi kian sulit terbendung.

Tingkat yang cukup tinggi dalam penggunaan media sosial sehingga konten-konten apapun dapat dengan cepat viral seperti misalnya peristiwa-peristiwa unik sampai pada hal yang mungkin tidak terpikirkan akan viral. Media sosial juga merupakan tempat “free speech”dimana netizen dapat menyampaikan dan membagi apa yang terjadi pada mereka atau disekitar mereka. Hal ini merupakan hal yang memiliki dampak POSITIF dan NEGATIF dalam kaitannya “free speech”.

Terkadang netizen dalam penyampaian yang mereka alami atau sekedar berbagi dapat merugikan pihak yang bersangkutan secara tidak langsung. Masih banyak netizen yang kurang “penyaringan” dalam penggunaan kata dan kalimat dalam penyampaian di media sosial, hal ini dapat berubah menjadi yang dampak NEGATIF di media sosial.

Penyampaian di media sosial dapat berupa suatu keterangan dalam sebuah status ataupun dalam berkomentar. Dibalik sebuah dampak NEGATIF di dunia media sosial, adapun dampak NEGATIF yang ditimbulkan dalam berbagi di dunia sosmed. Dalam penggunaan media sosial dibutuhkannya adanya “saringan”atau edukasi untuk memilah kata yang pantas untuk disampaikan oleh netizen.

“SARINGAN” Berupa membangun BUDAYA SENSOR MANDIRI ini dibutuhkan bagi netizen karena untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam penggunaan media sosial dan juga tidak merugikan bagi orang lain maupun diri sendiri. Dan juga, dalam penyampaian komentar ataupun keterangan di media sosial, netizen harus berhati-hati dalam penyampaiannya agar terhindar dari hukum yang berlaku di Indonesia.

Hukum yang berlaku di Indonesia bagi penggunaan media sosial adalah tindak pidana penghinaan atau pencemaran nama baik dalam ITE (Pasal 27 ayat 3) merupakan delik aduan, bukan lagi masuk dalam delik umum, sehingga orang yang

merasa dirugikan sendiri yang harus melapor. Dan ancaman lainnya dalam pasal 27 tentang pencemaran nama baik turun dari paling lama 6 tahun penjara menjadi 4 tahun penjara dan denda dari Rp 1 miliar menjadi Rp 750 juta.

Inilah dimana LEMBAGA SENSOR FILM dapat mengambil peran utama dalam melakukan EDUKASI dan MENGAJARKAN mengenai SENSOR MANDIRI kepada netizen Indonesia sehingga kemudian menjadi sebuah budaya baru dalam menonton, melihat, berinteraksi dan membuat konten di media digital.

Perlunya dibentuk sebuah BAROMETER BARU untuk pengukuran kesuksesan kegiatan program kerja LEMBAGA SENSOR FILM terkait BUDAYA SENSOR MANDIRI sehingga terjadi KESEPAHAMAN terhadap tingkat pengetahuan netizen Indonesia, pembuatan modul program yang variatif dan interaktif, serta  klasifikasi tingkat kesuksesan sebuah pencapaian kerja yang dinamis dan berkelanjutan.

Dengan memperhatikan dan menjaga lingkungan di media sosial, maka netizen di Indonesia diharapkan makin optimal dalam penggunaan media sosial dan menjaga lingkungan media sosial yang memiliki pengaruh cukup besar untuk tiap orang.

Sudah saatnya LEMBAGA SENSOR FILM melebarkan fungsi tidak hanya menyensor film yang akan beredar di teritori Republik Indonesia namun juga melakukan TEROBOSAN BESAR dengan menjadi salah satu garda depan penjaga moral bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.