Kenanganku di Gayo, Aceh Tengah 1981

Kenanganku di Gayo, Aceh Tengah 1981

Kenanganku di Gayo, Aceh Tengah 1981

Memiliki Papa seorang peneliti sejarah, adalah merupakan hal yang luar biasa di masa kecilku. Seingatku, tahun 1970-an akhir hingga 1980-an hanya ada 2(dua) profesi pekerjaan yang menuntut seorang suami /kepala rumah tangga sering melakukan dinas atau perjalanan jauh dari keluarganya. Yang pertama adalah bila kepala rumah tangga tersebut dinas di militer; dan yang kedua adalah peneliti, seperti Papaku.

Salah satu penelitiannya yang cukup lama adalah saat beliau ingin meraih gelar Ph.D sebelum berusia 35 tahun (beliau mencapainya di usia 34 tahun) Gelar Ph. D adalah gelar yang setara dengan S3 atau Doktor di Indonesia.
Penelitiannya tersebut membawa kami sekeluarga pindah ke Desa Tetunjung – Takengon, Gayo, Aceh Tengah di tahun 1981. Saat itu aku masih berusia belum 5(lima) tahun. Kami berempat (Papa-Mama-Saya dan Febry, adikku) tinggal di dalam rumah semi permanen yang letaknya 150 meter dari tepi Danau Laut Tawar.

Desa Tetunjung merupakan desa yang nyaris berada di kaki gunung.  Rumahku dikatakan rumah semi permanen, karena dengan uang yang pas-pasan ala uang saku + beasiswa seorang peneliti, Papaku hanya mampu mengkontrak rumah yang bila ukuran orang dewasa berdiri, pinggang ke bawah adalah tembok kemudian selebihnya hanyalah jajaran kayu yang dirapatkan. Halaman rumahku adalah kebun yang cukup luas berisi tanaman tomat, labu siam dan alpukat. Lumayan buat lauk sayur sehari-hari. Cuaca dan iklim di desa tersebut super dinginnnn…. Angin yang turun ke desa membawa hawa beku dan bersuara seperti truk saking kerasnya.

Jangan ditanya suasana malam hari. Jam 6 sore, semua sudah sepi dan gelap. Listrik masih sangat terbatas. Rumahku sendiri menggunakan listrik yang bersumber dari generator.  Seingatku, dulu rumah kami hanya memiliki 1 ruangan yang dialiri listrik yakni ruang kerja Papaku dan TV yang hanya sesekali dinyalakan menjelang acara “Dunia dalam Berita”. Selebihnya memakai lampu minyak tanah agar menghemat solar.

Selain sepi, udara di sana super dingin dan beku. Saat tidur malam, Aku harus memakai full jaket, topi, kaos kaki-tangan seperti kita berada di luar negeri. Rumah kami yang berdinding kayu juga dipenuhi tempelan koran bekas untuk sekedar menutupi gempuran angin yang mencoba memasuki celah-celah dinding.

Disana, saya bersekolah di sebuah SD Inpres. Jaraknya 50-100 meter berjalan kaki dari tempat tinggal kami… Dan sepertinya saat bersekolah disana, saya tidak memahami bahasa lokal, karena kelamaan di Norge dan Yogyakarta (kota asal Mamaku). Yang kuingat, setiap hari, mamaku membekaliku uang jajan 5 Rupiah yang saat itu bisa untuk membeli jajanan 1 manisan buah kedondong yang besar, 1 es serut, dan 1 gorengan…hihihii ^_^

Kenanganku di Gayo, Aceh Tengah 1981

Hampir seluruh penduduk desa memiliki kebun dan bermata pencarian sebagai petani. Semua nasi yang dikonsumsi adalah beras dan padi dari sawah masing-masing rumah tangga. Sehingga merupakan pemandangan umum, setiap siang menjelang sore, Ibu-ibu yang tinggal dekat rumahku mulai berkumpul dan menumbuk padi di lesung padi yang ada di teras rumah mereka masing-masing sambil bercengkrama (dan mamaku ikut pula bergosip dengan Ibu-ibu setempat ^_^)

Pekerjaan perempuan disana, aku nilai lebih berat daripada kaum prianya. Selain memasak, mencuci, mengurus anak, berbelanja; Mereka juga turut membantu berladang. Jadi boleh dibilang saat sawah harus ditanami padi, rumah penduduk super sepi karena seluruh keluarga diboyong ke sawah/ladang.

Satu hal yang sangat kuingat hingga sekarang adalah buah Alpukat yang lezat dan bervitamin bagi masyarakat Desa Tetunjung bukan buah atau makanan yang dikonsumsi oleh manusia. Buah Alpukat merupakan makanan bagi anjing…hihihi, jadi kebayang dong, saat Papaku mengambil buah alpukat dicampur dengan es batu, susu kental manis dan sirup kemudian kami konsumsi sekeluarga, para tetangga kami memandang penuh “takjub” nyaris mual karena terbayang makanan si guk-guk dikonsumsi oleh kami sekeluarga hahahahaha….

Kebalikannya, para tetanggaku alias penduduk desa tersebut menjadikan Terasi sebagai Lauk Utama teman makan nasi. Memang sih rasanya gurih, tapi buat kami sekeluarga, terasi adalah campuran sambal tomat. Sehingga bila tetangga kami menggoreng terasi dan makan di teras, Saya dan Febry turut memandang takjub hal tersebut.. xixixixi

Oiya, ini adalah disertasi Papaku mengenai Gayo yang diterbitkan menjadi sebuah buku.Tulisan ini dibuat atas inspirasi dari @hack87 yang rajin menulis tentang aceh; @iloveaceh , #acehblogger ^_^

 Kenanganku di Gayo, Aceh Tengah 1981

 

 

 

 

 

 

24 thoughts on “Kenanganku di Gayo, Aceh Tengah 1981

    1. Ayoo ditulis… Ngeblog bukan hanya untuk mencatat apa yang terjadi hari ini, memprediksikan masa depan, tapi nge-blog juga merupakan sharing memori masa lampau yang tersimpan di sudut terdalam pikiran dan hati kita yang dapat membahagiakan dan memotivasi orang lain yang membacanya ^_^ cmiiw

  1. kisah ini membuat saya merinding membaca, bukan takut atau gelisah, tapi saya bangga kita telah saling memberikan inspirasi untuk menulis kisah dan sejarah hidup yang penuh makna dalam rajutan kata 🙂

    thanks sis Mubarika 🙂

  2. Terharu bacanya, kehidupan orang dulu begitu sulit yach…yang kedua, saya sangat termotivasi bahwa siapapun bisa menjadi sukses pabila berusaha dengan giat

  3. alpukat kok untuk anjing ya trus terasi untuk lauk pauk?
    kok makanan hewan lebih enak dari pada makanan majikannya, memory yang sulit untuk di lupakan 🙂

      1. tetap sampe sekarang alpukat itu makanan (maaf) anjing, harga alpukat sangat murah disini jadi malas menjualnya.

  4. Wah tak ku sangka mbak Rika dah pernah hidup disana 😀
    Dan sekarang bisa menjadi hebat seperti ini, sungguh tauladan yang patut di contoh ^^

  5. Keren ceritanya mbak..
    jadi pengen bercerita mengenai pengalaman semasa kecil juga, tapi bingunk mulai darimana. Xixixi.. banyak banget, next time pasti akan saya tulis juga (terinspirasi sama tulisan diatas)

  6. Itu mbak mubarika ya??
    Waduh bener-bener berbeda… masih jadul banget..
    tapi papa nya ganteng… 🙂 Aku naksir brewoknya..
    Sekarang Papa+mama mbak mubarika dimana??

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *